Minggu, 04 Oktober 2009

0~~Be Es De ( Berbuat baik, Sayangi dan Doakan )~~
Sering rasanya kita mendengar pak ustad mengajak dan menyuruh kita untuk membalas keburukan dengan kebaikan, kebencian dengan kasih sayang, bahkan keangkaramurkaan dengan senyuman dan kesabaran. Memang mudah untuk diucapkan ajakan tersebut, tapi tentunya harus ada kerangka pikir yang dapat mendukung pada tahap implementasinya. Di samping itu, fakta menunjukkan bahwa tidak sedikit orang yang seolah-olah kerjanya hanya membuat keonaran, kekacauan dan kedhaliman, yang ujung-ujungnya membuat kita jadi emosi serta memunculkan semangat perjuangan untuk membela kebenaran dan menumpas kebatilan. Rasanya tidak ihlas juga jika kita melihat kejahatan merajalela di depan mata , kadang-kadang begitu fulgar dan tanpa basa-basi sedikitpun. Kemudian pertanyaannya adalah pendekatan seperti apa yang harus kita lakukan untuk dapat melaksanakan ajakan pak ustad dengan hati yang ihlas serta mampu melihat kemanfaatan dan keindahan dari tindakan memaafkan, berpikir positif, mental kelimpahruahan dan berlomba-lomba menebar kemaslahatan?...
Kata pak ustad selanjutnya, jika ada orang yang berbuat jahat kepadamu, berusahalah untuk berbuat baik kepadanya, sayangi dan doakan dia agar dapat ampunan dan petunjuk dari Allah swt. Sekali lagi, kita dibenturkan pada kondisi yang tidak mudah dilakukan dan susah diterima akal bagi orang yang pernah atau sedang mengalami dianiaya. Hebohnya, kita saksikan pula, mereka yang suka menganiaya orang, hidupnya sepertinya baik-baik saja dan serba kecukupan. Terus bagaimana caranya kita dapat meyakini ajakan pak ustad tersebut akan mendatangkan kebaikan pada diri kita, syukur-syukur kepada orang yang senang berbuat dhalim ? Belum lagi, kita harus berhadapan dengan watak atau karakter yang telah kita miliki dan sudah menjadi kebiasaan hidup kita selama ini. Mampukah kita mengubahnya ??
Tidak mudah menjawab semua pertanyaan dan kebimbangan itu. Disitulah letak misteri kehidupan dan setiap orang akan mempunyai pilihan untuk dapat menguaknya, seiring dengan perjalanannya dalam mencari takdir ( hasil maksimal ) hidupnya. Bukan tidak mungkin kita akan terseret dalam pertengkaran yang tiada habis-habisnya ( aktivitas syariat ) atau kita akan menempuh jalan sufi untuk memohon bimbingan, perlindungan dan pertolongan Allah ( aktivitas hakekat ). Semuanya memiliki konsekuensi masing-masing dan hasilnya akan berbeda satu sama lain. Artinya, jika kita masih berorientasi pada tatanan keduniawian maka jalan syariat akan mendominasi tindakan kita. Sebaliknya, jika kita mulai condong kepada tatanan keuhrawian maka kita akan melihat seluruh proses, kejadian dan hasil, memiliki makna hakekat, yang semuanya adalah berasal dari Allah dan akan kembali kepada Nya. Lantas pola pikir apa yang dapat dijadikan pijakan untuk dapat mengamalkan Be Es De itu ?? Apakah hanya jalan syariat ?? Atau cukup dengan hakekat ?? Atau harus kedua-duanya??
Untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut, dapat dilakukan pendekatan dengan cara mengenal sosok manusia secara lebih luas, yaitu dari pendekatan sisi hakekat dan syariat. Sayangnya, kita tidak pernah cukup belajar mengenai diri manusia secara utuh, kecuali yang didapat dari pelajaran agama yang lebih bersifat hakekat. Sedang secara syariat, kita sering terbentur di sana-sini dalam menjalin hubungan dengan sesama manusia, dengan mahluk lain dan dengan alam semesta. Betapa banyak pertengkaran, permusuhan dan peperangan yang terjadi dan semua itu dilakukan oleh orang-orang yang mengaku dirinya berpendidikan, berkuasa dan kaya. Sedang mereka yang hidupnya pas-pasan hanya melihat dengan bengong seluruh atraksi kekacaubalauan itu. Tinjauan terhadap diri manusia secara hakekat, sepertinya sudah banyak yang membahasnya, khususnya oleh para pemuka agama. Kini, kita dapat memfokuskan pada tinjauan sisi syariatnya.
Kita sebagai manusia diharapkan akan sempat dan mampu mengalami masa pertumbuhan selama mengarungi perjalanan hidup kita. Ada 4 ( empat ) tahap yang bakal dilalui setiap anak manusia yang secara khusus mendapat rahmat ( kemurahan ) dari Allah.
Tahap pertama, adalah tahap mematuhi. Tahap ini digambarkan sebagai tahap kanak-kanak, yaitu tahap dimana semua orang ingin belajar atau mengetahui banyak hal dengan tanpa rasa takut yang disertai dengan rasa keingintahuan yang sangat besar. Semakin banyak mereka belajar atau patuh pada guru semakin besar ilmu yang mereka dapat. Meskipun kadang memberontak, pemberontakan mereka dengan mudah dapat dipatahkan. Tahap ini benar-benar merupakan tahap eksplorasi, semua akan dilihat, semua akan ditanyakan, semua akan ditiru dan akhirnya akan mencoba untuk memodifikasi. Jika tidak mendapat arahan yang benar dan jelas maka arah modifikasinya akan nabrak sana-sini dan akan babak belur dihajar pengalaman pahit. Sayangnya, pengalaman buruk di tahap kanak-kanak akan disimpan secara otomatis tanpa melalui penyaringan dan akan menjadi acuan dalam tahap perkembangannya.
Tahap kedua, adalah tahap pemberontakan. Tahap ini disebut pula tahap remaja.Karena ilmu yang mereka dapat sudah cukup banyak tetapi tidak nambah-nambah lagi ( aturan tetap ) dan sang guru juga tidak menambah ilmu dan pelajarannya maka mereka jadi bosan, ingin tumbuh dan berkembang lebih banyak lagi. Kemudian mereka melakukan pemberontakan untuk mendapatkan perubahan yang mereka inginkan. Mereka akan berupaya menggantikan pemimpin mereka dan terkadang kalau perlu dengan menghalalkan segala cara. Tahap kedua, sering disebut sebagai tahap kritis, dimana orang susah melewati tahap pemberontakan dan beruntung apabila bisa masuk ke tahap ketiga. Mereka yang dengan susah payah masuk ke tahap pemberontakan, yang intinya adalah menuntut perubahan, memilih untuk terjebak dalam eforia dan huru-hara yang ditimbulkannya.
Tahap ketiga adalah tahap kemandirian. Tahap ini adalah tahap dewasa. Yaitu tahap dimana mereka ingin menemukan jati dirinya dan mengaktualisasikannya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga mereka secara terarah, terencana, sadar dan bertanggung jawab atas dirinya sendiri dan atas perjalanan hidupnya. Mereka menemukan identitas dirinya, eksistensi dirinya dan begitu banyak kontribusi yang dapat mereka berikan pada kehidupan serta kesuksesan yang dapat mereka raih. Apa yang mereka pikirkan dan bayangkan, biasanya akan menjadi kenyataan sesuai dengan tujuan yang mereka buat.
Tahap keempat adalah tahap kepemimpinan atau merupakan tahap sufi. Tahap ini merupakan tahap terakhir yang dapat dicapai oleh manusia sesuai dengan maksud dan tujuan diciptakannya manusia, yaitu sebagai pemimpin dan penebar kemaslahatan di muka bumi. Pada tahap ini, mereka sudah tidak berpikir lagi untuk kepentingan dirinya tapi justru semua yang dimilikinya didedikasikan untuk kepentingan kemaslahatan umat dan alam semesta. Kepemilikan ( identitas ) atas nama dirinya sudah digantikan dengan kepemilikan( identitas ) atas nama Tuhan dan memposisikan dirinya sebagai perpanjangan tangan Tuhan. Jadi tidak mustahil apabila apa yang dikehendakinya tidak berbeda dengan apa yang dikehendaki Tuhan nya dan apa yang di doakannya adalah apa yang dikabulkan oleh Tuhan nya. Orang-orang seperti ini sudah zuhud terhadap dunia, jika dia memegang tahta, harta dan cinta , semuanya dipersepsikan miliknya Allah sehingga harus dijaga sebaik-baiknya dan harus dikembalikan untuk sebesar-besar manfaat bagi manusia dan alam seisinya.
Berdasarkan tahap perjalanan umat manusia tersebut, kita dapat menganalisa, ada di tahap manakah kita sehingga dapat menjalankan anjuran pak ustad untuk selalu berbuat baik kepada sesama khususnya kepada mereka yang mendhalimi kita. Dapat kita simpulkan bahwa di tahap empatlah kita baru mampu melakukan anjuran itu. Dimana kita sudah mampu lepas dari rasa kepemilikan atas dunia ini serta menyadari dan mengihlaskan semua itu adalah milik Allah, sehingga kita tidak layak membenci bahkan menganiaya semua mahluk dan ciptaan Allah. Yang boleh kita musuhi adalah iblis yang berada di dalam diri para perusak itu dan bukan orangnya. Jadi yang kita perangi adalah iblis yang bercokol dan menjadi majikan orang-orang yang berbuat kerusakan. Tetapi di dalam cara kita memusuhi iblis atau iblis yang berbadan manusia harus mengikuti kaidah-kaidah yang diatur oleh Allah, sehingga peperangan dengan iblis tidak mengatasnamakan diri sendiri tetapi atas nama Allah.
Harap diingat, perjalanan manusia dalam mengarungi hidupnya dijalani melalui kebiasaan-kebiasaan yang dibentuk sejak kita di kandungan hingga ke liang lahat. Kebiasaan-kebiasaan itulah yang membentuk kita hingga saat ini. Jadi perjalanan tahap kepimpinan itu dapat kita masuki dan tempuh, apabila sejak dari masa kanak-kanak, remaja, dewasa,hingga sufi kita sudah mengenal dan merasakan ditempa sebagai seorang pemimpin, Dan masa pembekalan kepemimpinan yang paling kritis justru terjadi pada masa kanak-kanak dan remaja. Apabila masa-masa itu dapat dilalui dengan selamat dan sukses, insyaallah tahap kepemimpinan akan dapat dijalani dengan mudah dan berkah.
Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana nasib orang-orang yang memilih berhenti khususnya di tahap pemberontakan ?? Apakah mereka merasakan kebahagiaan, kenikmatan atau bahkan ridho Allah ?? Dapat dipastikan, karena mereka memilih eforia dan hura-hara yang timbul di tahap pemberontakan, mereka akan mudah disusupi iblis, yang artinya akan dijauhi oleh ketenteraman, kebahagiaan ataupun barokah Allah swt. Yang mereka dapatkan adalah sekedar kesenangan dunia yang sifatnya menipu dan sesaat serta tidak mampu mendatangkan kebaikan dan nikmat Allah baik di dunia dan akherat. Hal itulah yang dijanjikan Allah kepada iblis ketika mereka minta balasan atas ibadah yang mereka lakukan sebelum dilaknat oleh Allah, yaitu dunia seisinya.
Jadi sudah benarkah apabila kita harus berbuat baik, menyayangi dan mendoakan kepada mereka yang berbuat dhalim kepada kita?? Tentu saja jawabannya adalah benar. Karena bagi orang yang gemar mendhalimi orang lain, sebenarnya mereka juga berbuat dhalim kepada dirinya sendiri. Mereka menyadari berbagai kekurangan dan keburukannya tetapi tidak mampu untuk memperbaikinya. Sehingga yang dia lakukan adalah mengurangi atau meminta hak atau kemampuan orang lain untuk menambal kekurangannya. Tapi itu adalah perbuatan sia-sia. Kehidupan kita tidak pernah meningkat sebelum kita mengubah dari orang yang kekurangan ( suka meminta ) menjadi orang yang kaya ( suka memberi ). Kita tidak akan memperoleh sisi baik kehidupan dengan cara mengambilnya, tetapi kita akan memperolehnya jika kita berkontribusi dan memberi. Bagi kita yang suka memberi, didhalimi orang adalah saat yang tepat bagi kita untuk memberi sedekah bagi orang-orang yang kekurangan hal-hal yang baik dan bermanfaat dalam kehidupannya.
Orang-orang yang gemar membuat kerusakan, juga termasuk orang-orang yang tidak bisa berdamai dan menerima dirinya sendiri. Mereka kesulitan untuk menyayangi dirinya, (karena adanya penolakan terhadap dirinya oleh dirinya sendiri), apalagi untuk menyayangi orang lain. Jadi sudahlah tepat bila kita harus berlaku kasih kepada mereka yang berbuat jahat kepada kita, karena mereka memang haus akan kasih sayang.
Mendoakan orang lain adalah ajaran yang kita terima sejak kita kecil. Orang-orang yang kejam, bengis, iri, dengki dan dendam adalah orang-orang yang kecerdasannya belum berkembang, khususnya adalah kecerdasan emosional dan spiritual. Boleh jadi mereka memiliki kecerdasan fisik dan intelektual yang cukup tetapi mereka bodoh di kecerdasan emosional dan spiritual. Padahal kesuksesan lebih ditentukan oleh perkembangan kecerdasan emosional dan spiritual. Mereka yang mengidap penyakit hati, maka hatinya akan gelap dan kotor yang sering digambarkan sebagai gudang tempat penyimpanan barang-barang tidak berguna dan tak bernilai. Semakin banyak penyakit hati yang dipunyai, semakin gelap hati mereka , yang akhirnya bisa jadi hati mereka akan seluruhnya berupa gudang yang gelap, kotor dan bau. Akhirnya sinar kebenaran yang menggambarkan sifat-sifat Allah enggan untuk datang bertandang. Kalau sudah demikian hati mereka benar-benar tertutup oleh kegelapan yang dibawa oleh iblis dan dijauhkan dari cahaya kebenaran Allah dan mata hati atau nurani mereka telah mati. Dan hanya Allah lah yang dapat dan berkenan membuka tabir hitam pekat yang menyelimuti hati mereka. Untuk itulah kita diminta untuk mendoakannya agar bisa diampuni dan diberi petunjuk oleh Allah, sehingga dapat kembali ke jalan yang lurus lagi. Mudah-mudahan mereka yang suka berbuat keburukan bisa segera bertobat, apalagi bagi mereka yang suka mendhalimi orang lain, disamping tobat sebagai perwujudan permohonan ampun kepada Allah, mereka juga harus bersusah payah meminta maaf kepada orang-orang yang mereka dhalimi. Masalahnya, orang yang pernah didhalimi tidak mudah dan belum tentu ihlas memberi maaf. Meskipun secara ucapan mereka sudah memberi maaf, tetapi apabila hati mereka tidak ihlas maka kesalahan itu secara hakekat belum termaafkan. Dan jangan kita lupakan, ada hukum alam yang disebut hukum kekekalan energi. Siapa yang menabur kebaikan akan menuai kebaikan pula secara berlipat-lipat. Sebaliknya, siapa yang menabur keburukan akan menuai keburukan yang teramat pedih. Di dunia ini tidak ada yang gratis, siapa yang menebar, dialah yang menuai dan harus dibayar di dunia ini plus di akherat.
Jika demikian, sungguh ucapan dan ajakan pak ustad tidak ada yang salah dan insyaallah, akan merupakan sarana ibadah dan sedekah bagi kita serta mudah-mudahan menjadi bekal kita di kehidupan yang lain. Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar