Selasa, 06 Oktober 2009

Kucingku, si Snowi

Awalnya aku punya kucing cuman dua, si Roki ama si Bimbi. Si Roki, badannya hitam, mata bulet, hidungnya kecil, bulunya lebat dan yang bikin orang seneng adalah gayanya yang pendiam dengan tatapan mata yang tajam serta jalannya gagah. Dia sih memang tampang pejantan tangguh. Sedangkan si Bimbi, menggambarkan sosok yang lemah lembut, cantik, dengan bulu warna kembang telon, mata kuning bulat dan hidungnya pesek. Wah, emang paduan yang serasi. Pertama kali dikenalin, si Roki langsung nyamperin Bimbi, terus ditungguin aja semalaman ngumpet di bawah kursi. Paginya, mereka berdua udah duduk ngejejer di depan pintu. Nah, pasti udah akur dan sayang-sayangan. Kelihatannya, si Roki cinta banget ama si Bimbi, sebentar-sebentar kepala si Bimbi dijilatin sambil digigit-gigit dicari kutunya. Nggak nyampe satu bulan, Bimbi sering muntah. Jangan-jangan lagi hamil?? Eh, bener juga. Sebulan kemudian, kata dokter, Bimbi dalam kondisi hamil dan alhamdulillah badannya sehat. Lucunya, kucing kalo lagi hamil muda, wajahnya tambah cantik dan badannya tambah seksi. Jalannya berayun - ayun, bikin Roki klimpungan. Maunya setiap hari ML. Terbukti, setiap abis subuh pasti mereka berdua udah gendong-gendongan. Persis nyanyiannya mbah Surip. " Tak gendong kemana-mana.. enak tho..sedap tho.. mak nyuus tho..!!"
Makin hari kandungannya Bimbi makin besar. Nafsu makannya juga gede banget, tapi nafsu birahinya turun. Kadang si Roki digampar abis-abisan, kalo berani nyoba ngedeketin Bimbi. Genap 70 hari sejak atraksi gendong-gendongan, Bimbi mulai gelisah dan tingkahnya uring-uringan. Semua tempat dan ruang yang agak gelap disamperinnya.... dan di hari ke 72 Bimbi melahirkan 4 ekor bayi kucing yang lucu-lucu. Tapi sayangnya bayi yang keempat, kebalut ari-ari agak lama dan ketika ari-arinya disobek, bayi kucing udah terlalu lemes, akhirnya tak tertolong lagi.
Bimbi, memang sesosok ibu yang bertanggung jawab dan sangat mencintai anak-anaknya. Yang sulung warnanya hitam belang putih, seperti bapaknya. Anak kedua warnanya kuning, bulunya tebel banget. Nah yang ketiga, agak luar biasa.. bulunya putih tebal, ekornya mungil warnanya hitam. Jadi, itu ekor seperti pegangan sapu yang ditancepin. Wiiiihh... lucu sekali pokoknya !! Belum lagi, kalo dia gerak-gerak.. wah seperti bebek, megal-megol keberatan pantat..
Tiap hari, ketiga mahluk lucu itu berebut tetek emaknya. Mereka sering ribut, dorong-dorongan nggak ada yang mau ngalah. Repotnya lagi, tidak semua teteknya Bimbi keluar air susunya. Biasanya, jumlah tetek yang keluar air susunya maksimal dua atau tiga. Oleh sebab itu bayi kucing yang cepat gemuk pasti yang tenaganya paling besar, sehingga bisa ngalahin yang lain dalam berebut tetek. Dan kalo udah dapat tetek pasti akan disedot abis-abisan, sampai bunyi..sruut...sruutt.
Tapi suasana gembira itu tidak berlangsung lama. Baru 2 minggu bayi-bayi mungil itu lahir, si kuning sudah mulai tak aktif dan lemas. Badannya menyusut, tak begitu lagi doyan netek. Matanya selalu terpejam dan suaranya melemah. Genap usia 3 minggu lebih satu hari, si kuning tak tahan lagi dan meninggal dunia. Kabut duka mengiringi kepergiannya. Rasa penyesalan terasa menggores di hati, kenapa enggak buru-buru dibawa ke dokter. Malangnya lagi, kita yang masih berduka, sejak ditinggalkan si kuning, si hitam tahu-tahu badannya menggigil. Wah.. ada apa lagi ?? Buru-buru dibawa ke dokter. Kata dokter, dia kena sakit perut, mungkin karena ketularan si kuning . Untungnya tidak perlu di opname, bisa obat jalan. Setelah diperiksa dan diberi obat, si hitam dibawa pulang dengan kondisi yang masih lemas. Dua hari kemudian, tanpa sepengetahuan siapapun, si hitam ditemukan sudah dalam kondisi kaku dan meninggal dunia. Awan mendung kembali menyelimuti kepergiannya. Hati yang belum sembuh dari luka lama, kembali harus tergores perih. Hujan tangis tak terelakkan. Sedih dan pilu amat terasa ketika menyaksikan jasad yang mungil dan kaku dimasukkan ke liang lahat.... betapa berat diterpa rasa kehilangan!!
Sejak saat itu seluruh perhatian ditujukan kepada si putih. Kita nggak ingin kehilangan lagi untuk yang ketiga kalinya. Untungnya perkembangannya bagus. Badannya gemuk, bulunya seperti kapas dan sudah mulai bisa jalan dan bermain. Wiihhh... lucu sekali !! Semua sepakat, kita ganti nama si putih dengan si SNOWI. Biar bulunya tambah tebel seperti salju. Snowi sepertinya tahu juga kalo dirinya jadi pusat perhatian dan curahan kasih sayang. Siapapun yang mendekat pasti disapanya, sambil mengibas-ibaskan ekornya yang hitam seperti wiper. Jadinya, berkat si Snowi suasana rumah jadi meriah dan seluruh penghuni rumah merasa sangat bahagia. Setiap hari sebelum pergi mereka berpamitan sama Snowi, begitu pula pulangnya pasti duluan nengokin dan main sebentar sama Snowi. Snowi...Snowi, kehadiranmu bisa memberikan keceriaan dan kegembiraan yang tak bisa diukur dengan uang.
Tepat usia 2 bulan, tiba-tiba Snowi jadi pendiam. Tak banyak gerak, suaranya bergetar dan parau, kadang-kadang terdengar seperti rintihan. Matanya yang bulat mulai sering terpejam. Jalannya agak limbung dan nggak mau bermain lagi. Ya Tuhan... lindungilah mahluk kecil ini...jangan Engkau biarkan dia menderita. Ya Allah... jangan Engkau ambil dulu si Snowi, berilah dia kesempatan untuk hidup lebih lama lagi. Hari-hari yang tadinya cerah dan bersinar terang, dalam sekejap jadi kelabu membisu. Semua orang tak kuasa menahan rasa sedih dan prihatin. Keesokan harinya, pagi-pagi tubuh Snowi semakin lemah. Semuanya berkumpul mengelilingi Snowi yang sedang aku pijit-pijit kakinya. Kadang-kadang dia gerakkan kakinya dengan pelan disertai suara mengeong yang lirih dan tersendat......dan dengan susah payah dia mencoba membuka matanya... Ampun, ya Allah !!.. tak sanggup aku melihatnya. Pelan-pelan untaian air mata mengalir di pipi, tak tahan melihat penderitaan Snowi.
Buru-buru Snowi diselimuti, dimasukkan ke ranjang kecil terus dilarikan ke rumah sakit hewan. Semuanya tak sempat mandi, yang dipikirkan hanyalah bagaimana caranya menyelamatkan Snowi. Tak peduli apakah harus diopname atau dioperasi atau apapun penanganan yang diperlukan. Satu jam telah berlalu... dan ketika telpon rumah berdering ternyata membawa berita duka yang mendalam. Si Snowi, si kucing lucu, si kucing pembawa kegembiraan dan kebahagiaan orang serumah, telah berpulang kembali kepada Sang Pencipta, Allah swt. "Inna lilahi wa inna ilaihi rojiun". Dada ini terasa terbelah, terasa sesak dan susah bernapas. Derai air mata mengalir deras tak henti-hentinya. Hati yang sempat terbalut dan terobati dari goresan lama, kini kembali terbuka, menganga tergores luka baru. Beginikah rasanya ditinggalkan sosok yang kita cintai. Meskipun hanya kucing Snowi sudah kita anggap sebagai anggota keluarga sendiri. Kehadirannya, meskipun hanya selama dua bulan, benar-benar merupakan suatu anugerah bagi keluarga kami. Kita bisa belajar bertoleransi, menyayangi bahkan belajar lebih banyak memberi dari pada meminta. Belum lagi begitu besar kesenangan, kemeriahan dan kebahagiaan yang muncul dari kehadiran Snowi. Akhirnya aku hanya bisa berdoa, 'Ya Allah, aku bersyukur kepada Mu karena telah Engkau kirimkan mahluk yang lucu, yang dapat memberikan kemaslahatan bagi keluarga kami, yang telah memberikan pelajaran makna kehidupan dan mengingatkan kami kepada kuasa dan kebesaran Mu....Ya Allah, aku bermunajad kepada Mu...jadikanlah usia kami sebagai usia yang penuh kebaikan dan kemaslahatan... berilah kekuatan dan kemampuan untuk selalu bisa bersyukur dan memberi... berilah kesabaran dan kepasrahan atas segala ujian Mu serta jadikanlah kami sebagai mahluk yang tak pernah putus tersirami dengan nikmat Mu dalam keadaan suka ataupun duka. Amin, ya robbal alamin.

Minggu, 04 Oktober 2009

AQ DAN CALON PACAR Q
( Cerita ini berisikan ide, karangan dan fakta kecil yang dikombinasikan melalui perenungan dan semedi , menjadi untaian perjalanan hidup seorang remaja laki-laki yang sederhana )

Namaku Odi. Aku adalah sosok seorang laki-laki tulen, yang hidup secara laki-laki serta memiliki emosi dan khayalan layaknya seorang pria. Usiaku delapan belas tahun, dengan tubuh setinggi diatas 170 cm, asar ( agak besar ) dengan rambut sedikit ikal. Tak banyak keistimewaan yang aku miliki, tapi ada yang dapat aku banggakan, yaitu temanku banyak dan baik-baik semua. Tapi kalau ditanya, siapakah teman dekatku ? Aku pasti kebingungan untuk menjawabnya. Soalnya, mereka itu orangnya baik, unik dan hebat di bidangnya masing-masing. Kalau ingat mereka, rasanya ingin ngrumpi melulu. Seperti saat ini, aku lagi berada di suatu tempat yang indah, sunyi dan sejuk. Sejak dari tadi aku bengong sendirian, melihat di kejauhan dengan tatapan kosong dan perasaan sepi. Entah kenapa, aku tak ingin melakukan apa-apa atau ngomong sedikitpun. Ingatanku menerawang dan melayang kemana-mana. Berubah silih berganti, wajah orang tua, teman sekolah, teman olah raga, teman nongkrong, tampak berkelebat di depan mata seperti sebuah gabungan potongan-potongan film. Kadang aku tersenyum sendiri ingat kekonyolan mereka. Orang tuaku meskipun sudah tua tapi lucunya minta ampun. Setiap hari, kalau di rumah aku selalu disuguhi lelucon- lelucon baru yang bisa bikin hidung nyengir melulu. Sedang kalau di sekolah, teman-temanku tak kalah atraksinya untuk membuat sakit perut karena terpingkal-pingkal. Akh, betapa indahnya hidup ini ! Tapi, entah kenapa saat ini aku merasa sepi dan sendirian. Padahal, begitu banyak sarana hiburan yang ada di sekelilingku.
Aku memejamkan mataku. Kata temanku mataku bentuknya lucu. Panjang, besar dan dikerumuni bulu mata yang lentik. Terkadang bikin iri temanku yang cewek. Aku tersenyum lagi, ingat temanku si yanti, yang sering naruh batang korek api di bulu mataku. “ Berani taruhan, pasti nggak kuat kalau dikasih tiga batang korek api “ katanya. Ternyata aku yang menang taruhan dan dua kali kecupan di pipi langsung terasa hangatnya. Yanti… Yanti… kamu memang mahluk yang lucu. Lain lagi dengan si Yuni, orangnya agak pendiam tapi perasaannya halus. Pernah suatu ketika minta ketemuan di suatu tempat, tak pikir ada apa, ternyata minta advis mau nembak temannya. Keesokan harinya dia nelpon sambil marah-marah, katanya kok aku membolehkan dia nembak temannya. Aku jadi nggak habis pikir sama cewek, begini salah, begitu juga salah. Tapi aku langsung meminta maaf sama Yuni kalau aku bikin kecewa dan marah. Eh, ternyata tanggapannya positif, asalkan sering-sering ketemuan. Bingung, bingung deh.
Capek tiduran, aku terus berdiri dan jalan-jalan di sekeliling rumah. Rumah yang aku sewa berupa vila dengan beberapa kamar yang menghadap ke gunung. Bagus juga kelihatannya, jika dilihat dari luar rumah. Dengan berlatar belakang bukit dan bagian depannya terdapat tanah lapang yang hijau, membuat perasaan jadi adem dan nyaman. Kata yang jaga vila, kalau pas hari libur, tempat ini pasti ramai dikunjungi orang. Siapa lagi, kalau bukan orang yang hendak pacaran. Kalau dipikir-pikir, ngapain ya orang pacaran suka nyari tempat yang sepi dan dingin ? Apa nggak lebih enak, pacaran di tempat yang ramai dan terang ?? Apalagi kalau bareng rame-rame sama teman-teman lainnya ! Ahh, nggak tahu lah, orang aku juga belum pernah pacaran. Kata beberapa teman sih, pacaran itu ada enaknya tapi nggak enaknya juga banyak. Kalau mau jadian, serunya bukan main. Tapi kalau sudah jadian, yang ada cuman larangan, disuruh-suruh, duit keluar lebih banyak, bertengkar dan ujung-ujungnya bubaran. Kok gitu ?? Tapi kalau diamati faktanya, memang banyak sih teman-temanku yang sering putus-sambung sama pacarnya, bahkan sering ganti-ganti pacar. Tiba-tiba angin sepoi mengusap leherku. Iihhh, dinginnya !! Aku baru tersadar kalau kakiku telah membawaku melewati sebuah sungai kecil yang jernih airnya. Allah maha besar ! Sungai yang dalamnya hanya semata kaki dan airnya yang bening mengalir tenang ternyata membawa banyak ikan kecil-kecil berlenggak-lenggok diantara bebatuan. Dari mana asalnya air yang jernih ini ?? Dan ketika kutolehkan kepalaku ke kanan, di kejauhan terlihat air terjun yang tinggi dengan pancaran air yang deras yang dikelilingi batuan yang besar-besar. Aduh, indah sekali !! Sayangnya, aku tidak bisa berbagi keindahan dengan teman-temanku. Coba kalau ada si cece centil, wah pasti seru jadinya. Pasti dia ngajak berendam di bawah air terjun sambil main semprot-semprotan air. Belum lagi, kalau ada si bosil ( bocah usil ), tambah kacau deh. Dia nakal sih enggak, cuma kalau renang bareng sukanya dekat-dekat kita, habis itu tanya, “ Airnya hangat ya ?” Gimana nggak hangat, orang dia habis kencing disitu !... Dasar !!
Setelah melewati sungai, jalanan jadi agak nanjak dan berputar balik kearah vila. Di balik pepohonan terlihat beberapa pasangan remaja pada bisik-bisik sambil berangkulan. Apa ya kira-kira yang dibicarakan ? Rasanya ingin juga ikut nguping bisikannya, tapi kok terus disambung dengan tawa cekikikan. Wah, jangan-jangan kawanan kuntilanak, hiii… ngeri juga. Tapi kuntilanak kok klayapan di siang hari ?? Bisa jadi kuntilanak yang lagi liburan, sehabis malamnya capai nakut-nakutin orang pacaran. Ngaco ahh.. ! Lagian ngapain ngurusin kuntilanak ! Tiba di vila hari telah sore, udara tambah dingin dan aku butuh minuman penghangat tubuh.
Sambil menunggu maghrib, aku duduk di teras dengan ditemani segelas wedang jahe dan sepiring singkong goreng. Alangkah nikmatnya hidup di bumi Indonesiaku tercinta. Pemandangannya indah, penduduknya ramah, hasil buminya melimpah, benar-benar gambaran hamparan sorga di dunia. Aku sangat bersyukur dilahirkan di Indonesia, mudah-mudahan tanah airku dan bangsaku dapat melahirkan para pemimpin-pemimpin besar yang akan mampu berperan sebagai pemimpin atau wakil Tuhan di muka bumi. Amiiin. Lho, kok seperti ustad !!.. Alhamdulillah, berarti aku didekati malaikat, bukannya kuntilanak.
Maghrib telah tiba, segera aku mengambil wudhu di pancuran sebelah kamar mandi. Hiii, airnya dingin sekali !! Karena jauh dari masjid atau musholla, terpaksa aku sholat sendirian. Penginnya sih berjamaah. Apalagi sholat maghrib, kalau berjamaah, wah .. rasanya enak sekali. Mendengar ayat-ayat suci yang dibaca keras dan mengalun merdu, mendatangkan perasaan tenteram dan nikmat di hati. Tetapi sholat sendirian, kalau bacaannya benar, dilakukan dengan tidak tergesa-gesa dan mencoba mengartikannya, rasanya juga enak dan lebih kusyu’. Memang nikmat kok sholat itu, kita berhadapan dengan Allah, bertemu muka dan berbincang-bincang dengan- Nya, bahkan kita dapat menyerap energi- Nya yang diwujudkan sebagai energi alam semesta. Makanya, sehabis sholat biasanya badan dan perasaan kita bertambah segar dan sehat. Itu, menurut aku lho ! Mudah-mudahan benar !!
Makan malam akhirnya tiba. Perut rasanya sudah susah diajak kompromi, dari tadi bunyi kriuuk-kriuuk. Ada nasi putih panas, ayam goreng, ikan ekor kuning goreng, tahu tempe goreng, lalapan plus sambal terasi, sayur asem, karedok dan krupuk udang. Wah, susah dibayangkan uenaknya, sementara bau harumnya keluar menggoda bulu hidung dan air liur ( glek.. glek.. gleegkk ). Aku jadi ingat teman lagi. Yang namanya ical, kalau sudah ketemu makanan kaya gini, jangan ditanya, langsung disikaaatt habis! Itu anak, badannya sih kerempeng, tapi perutnya bisa dimuatin apa saja, sampai-sampai jatah tiga orang, bisa habis sama dia. Busseettt dahh!! Tapi kenikmatan makan sebenarnya bukan terletak pada makanannya, tapi tergantung suasana dan ditemani siapa. Meskipun makanannya seabrek dan semuanya lezat, tapi kalau makannya sendirian, ya.. kurang nikmat. Nah, yang paling nikmat, kata teman aku adalah makan ditemani orang yang disayangi dengan suasana remang-remang karena cahaya lilin dengan diiringi lagu yang romantis. Mak nyuusss… rasanya dan tak akan terlupakan seumur hidup. Tapi biasanya masalah baru muncul belakangan, yaitu ketika selesai makan dan harus membayar. Siapa yang akan membayar semua kenikmatan tadi ?? Lah, aku kok jadi ngurusi orang pacaran yang lagi makan enak tapi nggak jelas siapa bandarnya !!.
Selesai makan, perut terasa kenyang, mata tiba-tiba maunya terpejam. Nah, begitu terpejam, bayangan wajah orang langsung bersliweran lagi di depan mata. Di sana ada wajah ortu, teman-teman, orang tak dikenal…. tiba-tiba aku jadi heran, kok yang aku ingat banyak sekali. Kok nggak kaya si mumes ( muka mesum ), katanya kalau mau tidur yang ada diingatannya hanya cewek yang dicintainya. Nah, ketahuan sekarang…. kenapa kok dari tadi hati ini rasanya sepi, jangan-jangan karena aku belum punya pacar !! Wah, ini sesuatu yang baru ! Belum pernah aku sebelumnya mikir masalah pacar. Tapi, bisa jadi itu masalah utamanya. Padahal, sebelumnya aku lebih senang punya banyak teman dari pada punya satu pacar. Menurut pendapatku, begitu aku punya pacar, pasti hubunganku dengan teman-temanku akan menjadi terbatas dan tidak sesantai dulu. Batasan dan larangan akan mulai diberlakukan, meskipun sepertinya tidak jadi masalah apabila aku tetap ingin berhubungan dengan teman-temannku. Apa iya, seperti itu ??? Bukankah seorang pacar ingin diistimewakan ?? Bukankah seorang pacar ingin selalu dipuja dan dimanja ?? Bukankah orang berpacaran merasa mempunyai hak milik atas diri pacarnya ?? Waduh, sepertinya repot sekali menjalaninya ??!
Tapi, seandainya aku punya pacar, seperti apa ya orangnya ??? Kata orang, kalau punya pacar dan ternyata kelak pacarnya itu adalah jodohnya , maka pelan-pelan wajahnya jadi mirip satu sama lain ??? Apa iya??? Dari pada aku menghayal, lebih baik aku berdoa saja kepada Tuhan, mudah-mudahan aku diberi pacar yang seperti aku impikan selama ini !!
Tuhan, di malam yang sepi dan hening ini, aku bermunajad kepada Mu. Kelak. Jika waktunya tiba, berikanlah aku pacar yang tahu siapa dirinya dan tahu siapa diriku. Berilah kami kekuatan dan kearifan untuk bisa menerima satu sama lain dengan ihlas, dengan segala kekurangan dan kelebihan masing-masing. Limpahkanlah pada dirinya sifat senang sedekah, murah senyum, sopan-santun, rajin ibadah, enak dipandang mata dan menyejukkan di hati. Aku bukan termasuk orang yang senang ganti-ganti pacar, ya Allah.. berikanlah aku pacar yang seiman, yang setia, yang bisa selalu mengajakku kepada hal-hal yang haq dan menjauhi yang batil. Jika pacarku kelak, nantinya menjadi istriku, berilah dia kelapangan hati untuk bisa menerima keluargaku, menyesuaikan dengan lingkunganku dan berilah kami kekuatan dan kemampuan untuk menggapai ridho Mu…. Amin ya robbal alamin.
Rasanya mataku semakin berat dan badanku terasa melayang-layang.
Ya Allah, jika Engkau masih berkenan memperpanjang hidupku, bangunkanlah aku esok hari dengan badan yang segar dan hati yang lapang, untuk memenuhi tugasku dalam mengemban amanah Mu sebagai khalifatullah fil ard. Mudahkanlah segala urusanku, tiada kekuatan dan kemampuan kecuali datang dari Mu. Amin..
0~~Be Es De ( Berbuat baik, Sayangi dan Doakan )~~
Sering rasanya kita mendengar pak ustad mengajak dan menyuruh kita untuk membalas keburukan dengan kebaikan, kebencian dengan kasih sayang, bahkan keangkaramurkaan dengan senyuman dan kesabaran. Memang mudah untuk diucapkan ajakan tersebut, tapi tentunya harus ada kerangka pikir yang dapat mendukung pada tahap implementasinya. Di samping itu, fakta menunjukkan bahwa tidak sedikit orang yang seolah-olah kerjanya hanya membuat keonaran, kekacauan dan kedhaliman, yang ujung-ujungnya membuat kita jadi emosi serta memunculkan semangat perjuangan untuk membela kebenaran dan menumpas kebatilan. Rasanya tidak ihlas juga jika kita melihat kejahatan merajalela di depan mata , kadang-kadang begitu fulgar dan tanpa basa-basi sedikitpun. Kemudian pertanyaannya adalah pendekatan seperti apa yang harus kita lakukan untuk dapat melaksanakan ajakan pak ustad dengan hati yang ihlas serta mampu melihat kemanfaatan dan keindahan dari tindakan memaafkan, berpikir positif, mental kelimpahruahan dan berlomba-lomba menebar kemaslahatan?...
Kata pak ustad selanjutnya, jika ada orang yang berbuat jahat kepadamu, berusahalah untuk berbuat baik kepadanya, sayangi dan doakan dia agar dapat ampunan dan petunjuk dari Allah swt. Sekali lagi, kita dibenturkan pada kondisi yang tidak mudah dilakukan dan susah diterima akal bagi orang yang pernah atau sedang mengalami dianiaya. Hebohnya, kita saksikan pula, mereka yang suka menganiaya orang, hidupnya sepertinya baik-baik saja dan serba kecukupan. Terus bagaimana caranya kita dapat meyakini ajakan pak ustad tersebut akan mendatangkan kebaikan pada diri kita, syukur-syukur kepada orang yang senang berbuat dhalim ? Belum lagi, kita harus berhadapan dengan watak atau karakter yang telah kita miliki dan sudah menjadi kebiasaan hidup kita selama ini. Mampukah kita mengubahnya ??
Tidak mudah menjawab semua pertanyaan dan kebimbangan itu. Disitulah letak misteri kehidupan dan setiap orang akan mempunyai pilihan untuk dapat menguaknya, seiring dengan perjalanannya dalam mencari takdir ( hasil maksimal ) hidupnya. Bukan tidak mungkin kita akan terseret dalam pertengkaran yang tiada habis-habisnya ( aktivitas syariat ) atau kita akan menempuh jalan sufi untuk memohon bimbingan, perlindungan dan pertolongan Allah ( aktivitas hakekat ). Semuanya memiliki konsekuensi masing-masing dan hasilnya akan berbeda satu sama lain. Artinya, jika kita masih berorientasi pada tatanan keduniawian maka jalan syariat akan mendominasi tindakan kita. Sebaliknya, jika kita mulai condong kepada tatanan keuhrawian maka kita akan melihat seluruh proses, kejadian dan hasil, memiliki makna hakekat, yang semuanya adalah berasal dari Allah dan akan kembali kepada Nya. Lantas pola pikir apa yang dapat dijadikan pijakan untuk dapat mengamalkan Be Es De itu ?? Apakah hanya jalan syariat ?? Atau cukup dengan hakekat ?? Atau harus kedua-duanya??
Untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut, dapat dilakukan pendekatan dengan cara mengenal sosok manusia secara lebih luas, yaitu dari pendekatan sisi hakekat dan syariat. Sayangnya, kita tidak pernah cukup belajar mengenai diri manusia secara utuh, kecuali yang didapat dari pelajaran agama yang lebih bersifat hakekat. Sedang secara syariat, kita sering terbentur di sana-sini dalam menjalin hubungan dengan sesama manusia, dengan mahluk lain dan dengan alam semesta. Betapa banyak pertengkaran, permusuhan dan peperangan yang terjadi dan semua itu dilakukan oleh orang-orang yang mengaku dirinya berpendidikan, berkuasa dan kaya. Sedang mereka yang hidupnya pas-pasan hanya melihat dengan bengong seluruh atraksi kekacaubalauan itu. Tinjauan terhadap diri manusia secara hakekat, sepertinya sudah banyak yang membahasnya, khususnya oleh para pemuka agama. Kini, kita dapat memfokuskan pada tinjauan sisi syariatnya.
Kita sebagai manusia diharapkan akan sempat dan mampu mengalami masa pertumbuhan selama mengarungi perjalanan hidup kita. Ada 4 ( empat ) tahap yang bakal dilalui setiap anak manusia yang secara khusus mendapat rahmat ( kemurahan ) dari Allah.
Tahap pertama, adalah tahap mematuhi. Tahap ini digambarkan sebagai tahap kanak-kanak, yaitu tahap dimana semua orang ingin belajar atau mengetahui banyak hal dengan tanpa rasa takut yang disertai dengan rasa keingintahuan yang sangat besar. Semakin banyak mereka belajar atau patuh pada guru semakin besar ilmu yang mereka dapat. Meskipun kadang memberontak, pemberontakan mereka dengan mudah dapat dipatahkan. Tahap ini benar-benar merupakan tahap eksplorasi, semua akan dilihat, semua akan ditanyakan, semua akan ditiru dan akhirnya akan mencoba untuk memodifikasi. Jika tidak mendapat arahan yang benar dan jelas maka arah modifikasinya akan nabrak sana-sini dan akan babak belur dihajar pengalaman pahit. Sayangnya, pengalaman buruk di tahap kanak-kanak akan disimpan secara otomatis tanpa melalui penyaringan dan akan menjadi acuan dalam tahap perkembangannya.
Tahap kedua, adalah tahap pemberontakan. Tahap ini disebut pula tahap remaja.Karena ilmu yang mereka dapat sudah cukup banyak tetapi tidak nambah-nambah lagi ( aturan tetap ) dan sang guru juga tidak menambah ilmu dan pelajarannya maka mereka jadi bosan, ingin tumbuh dan berkembang lebih banyak lagi. Kemudian mereka melakukan pemberontakan untuk mendapatkan perubahan yang mereka inginkan. Mereka akan berupaya menggantikan pemimpin mereka dan terkadang kalau perlu dengan menghalalkan segala cara. Tahap kedua, sering disebut sebagai tahap kritis, dimana orang susah melewati tahap pemberontakan dan beruntung apabila bisa masuk ke tahap ketiga. Mereka yang dengan susah payah masuk ke tahap pemberontakan, yang intinya adalah menuntut perubahan, memilih untuk terjebak dalam eforia dan huru-hara yang ditimbulkannya.
Tahap ketiga adalah tahap kemandirian. Tahap ini adalah tahap dewasa. Yaitu tahap dimana mereka ingin menemukan jati dirinya dan mengaktualisasikannya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga mereka secara terarah, terencana, sadar dan bertanggung jawab atas dirinya sendiri dan atas perjalanan hidupnya. Mereka menemukan identitas dirinya, eksistensi dirinya dan begitu banyak kontribusi yang dapat mereka berikan pada kehidupan serta kesuksesan yang dapat mereka raih. Apa yang mereka pikirkan dan bayangkan, biasanya akan menjadi kenyataan sesuai dengan tujuan yang mereka buat.
Tahap keempat adalah tahap kepemimpinan atau merupakan tahap sufi. Tahap ini merupakan tahap terakhir yang dapat dicapai oleh manusia sesuai dengan maksud dan tujuan diciptakannya manusia, yaitu sebagai pemimpin dan penebar kemaslahatan di muka bumi. Pada tahap ini, mereka sudah tidak berpikir lagi untuk kepentingan dirinya tapi justru semua yang dimilikinya didedikasikan untuk kepentingan kemaslahatan umat dan alam semesta. Kepemilikan ( identitas ) atas nama dirinya sudah digantikan dengan kepemilikan( identitas ) atas nama Tuhan dan memposisikan dirinya sebagai perpanjangan tangan Tuhan. Jadi tidak mustahil apabila apa yang dikehendakinya tidak berbeda dengan apa yang dikehendaki Tuhan nya dan apa yang di doakannya adalah apa yang dikabulkan oleh Tuhan nya. Orang-orang seperti ini sudah zuhud terhadap dunia, jika dia memegang tahta, harta dan cinta , semuanya dipersepsikan miliknya Allah sehingga harus dijaga sebaik-baiknya dan harus dikembalikan untuk sebesar-besar manfaat bagi manusia dan alam seisinya.
Berdasarkan tahap perjalanan umat manusia tersebut, kita dapat menganalisa, ada di tahap manakah kita sehingga dapat menjalankan anjuran pak ustad untuk selalu berbuat baik kepada sesama khususnya kepada mereka yang mendhalimi kita. Dapat kita simpulkan bahwa di tahap empatlah kita baru mampu melakukan anjuran itu. Dimana kita sudah mampu lepas dari rasa kepemilikan atas dunia ini serta menyadari dan mengihlaskan semua itu adalah milik Allah, sehingga kita tidak layak membenci bahkan menganiaya semua mahluk dan ciptaan Allah. Yang boleh kita musuhi adalah iblis yang berada di dalam diri para perusak itu dan bukan orangnya. Jadi yang kita perangi adalah iblis yang bercokol dan menjadi majikan orang-orang yang berbuat kerusakan. Tetapi di dalam cara kita memusuhi iblis atau iblis yang berbadan manusia harus mengikuti kaidah-kaidah yang diatur oleh Allah, sehingga peperangan dengan iblis tidak mengatasnamakan diri sendiri tetapi atas nama Allah.
Harap diingat, perjalanan manusia dalam mengarungi hidupnya dijalani melalui kebiasaan-kebiasaan yang dibentuk sejak kita di kandungan hingga ke liang lahat. Kebiasaan-kebiasaan itulah yang membentuk kita hingga saat ini. Jadi perjalanan tahap kepimpinan itu dapat kita masuki dan tempuh, apabila sejak dari masa kanak-kanak, remaja, dewasa,hingga sufi kita sudah mengenal dan merasakan ditempa sebagai seorang pemimpin, Dan masa pembekalan kepemimpinan yang paling kritis justru terjadi pada masa kanak-kanak dan remaja. Apabila masa-masa itu dapat dilalui dengan selamat dan sukses, insyaallah tahap kepemimpinan akan dapat dijalani dengan mudah dan berkah.
Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana nasib orang-orang yang memilih berhenti khususnya di tahap pemberontakan ?? Apakah mereka merasakan kebahagiaan, kenikmatan atau bahkan ridho Allah ?? Dapat dipastikan, karena mereka memilih eforia dan hura-hara yang timbul di tahap pemberontakan, mereka akan mudah disusupi iblis, yang artinya akan dijauhi oleh ketenteraman, kebahagiaan ataupun barokah Allah swt. Yang mereka dapatkan adalah sekedar kesenangan dunia yang sifatnya menipu dan sesaat serta tidak mampu mendatangkan kebaikan dan nikmat Allah baik di dunia dan akherat. Hal itulah yang dijanjikan Allah kepada iblis ketika mereka minta balasan atas ibadah yang mereka lakukan sebelum dilaknat oleh Allah, yaitu dunia seisinya.
Jadi sudah benarkah apabila kita harus berbuat baik, menyayangi dan mendoakan kepada mereka yang berbuat dhalim kepada kita?? Tentu saja jawabannya adalah benar. Karena bagi orang yang gemar mendhalimi orang lain, sebenarnya mereka juga berbuat dhalim kepada dirinya sendiri. Mereka menyadari berbagai kekurangan dan keburukannya tetapi tidak mampu untuk memperbaikinya. Sehingga yang dia lakukan adalah mengurangi atau meminta hak atau kemampuan orang lain untuk menambal kekurangannya. Tapi itu adalah perbuatan sia-sia. Kehidupan kita tidak pernah meningkat sebelum kita mengubah dari orang yang kekurangan ( suka meminta ) menjadi orang yang kaya ( suka memberi ). Kita tidak akan memperoleh sisi baik kehidupan dengan cara mengambilnya, tetapi kita akan memperolehnya jika kita berkontribusi dan memberi. Bagi kita yang suka memberi, didhalimi orang adalah saat yang tepat bagi kita untuk memberi sedekah bagi orang-orang yang kekurangan hal-hal yang baik dan bermanfaat dalam kehidupannya.
Orang-orang yang gemar membuat kerusakan, juga termasuk orang-orang yang tidak bisa berdamai dan menerima dirinya sendiri. Mereka kesulitan untuk menyayangi dirinya, (karena adanya penolakan terhadap dirinya oleh dirinya sendiri), apalagi untuk menyayangi orang lain. Jadi sudahlah tepat bila kita harus berlaku kasih kepada mereka yang berbuat jahat kepada kita, karena mereka memang haus akan kasih sayang.
Mendoakan orang lain adalah ajaran yang kita terima sejak kita kecil. Orang-orang yang kejam, bengis, iri, dengki dan dendam adalah orang-orang yang kecerdasannya belum berkembang, khususnya adalah kecerdasan emosional dan spiritual. Boleh jadi mereka memiliki kecerdasan fisik dan intelektual yang cukup tetapi mereka bodoh di kecerdasan emosional dan spiritual. Padahal kesuksesan lebih ditentukan oleh perkembangan kecerdasan emosional dan spiritual. Mereka yang mengidap penyakit hati, maka hatinya akan gelap dan kotor yang sering digambarkan sebagai gudang tempat penyimpanan barang-barang tidak berguna dan tak bernilai. Semakin banyak penyakit hati yang dipunyai, semakin gelap hati mereka , yang akhirnya bisa jadi hati mereka akan seluruhnya berupa gudang yang gelap, kotor dan bau. Akhirnya sinar kebenaran yang menggambarkan sifat-sifat Allah enggan untuk datang bertandang. Kalau sudah demikian hati mereka benar-benar tertutup oleh kegelapan yang dibawa oleh iblis dan dijauhkan dari cahaya kebenaran Allah dan mata hati atau nurani mereka telah mati. Dan hanya Allah lah yang dapat dan berkenan membuka tabir hitam pekat yang menyelimuti hati mereka. Untuk itulah kita diminta untuk mendoakannya agar bisa diampuni dan diberi petunjuk oleh Allah, sehingga dapat kembali ke jalan yang lurus lagi. Mudah-mudahan mereka yang suka berbuat keburukan bisa segera bertobat, apalagi bagi mereka yang suka mendhalimi orang lain, disamping tobat sebagai perwujudan permohonan ampun kepada Allah, mereka juga harus bersusah payah meminta maaf kepada orang-orang yang mereka dhalimi. Masalahnya, orang yang pernah didhalimi tidak mudah dan belum tentu ihlas memberi maaf. Meskipun secara ucapan mereka sudah memberi maaf, tetapi apabila hati mereka tidak ihlas maka kesalahan itu secara hakekat belum termaafkan. Dan jangan kita lupakan, ada hukum alam yang disebut hukum kekekalan energi. Siapa yang menabur kebaikan akan menuai kebaikan pula secara berlipat-lipat. Sebaliknya, siapa yang menabur keburukan akan menuai keburukan yang teramat pedih. Di dunia ini tidak ada yang gratis, siapa yang menebar, dialah yang menuai dan harus dibayar di dunia ini plus di akherat.
Jika demikian, sungguh ucapan dan ajakan pak ustad tidak ada yang salah dan insyaallah, akan merupakan sarana ibadah dan sedekah bagi kita serta mudah-mudahan menjadi bekal kita di kehidupan yang lain. Amin.