Awalnya aku punya kucing cuman dua, si Roki ama si Bimbi. Si Roki, badannya hitam, mata bulet, hidungnya kecil, bulunya lebat dan yang bikin orang seneng adalah gayanya yang pendiam dengan tatapan mata yang tajam serta jalannya gagah. Dia sih memang tampang pejantan tangguh. Sedangkan si Bimbi, menggambarkan sosok yang lemah lembut, cantik, dengan bulu warna kembang telon, mata kuning bulat dan hidungnya pesek. Wah, emang paduan yang serasi. Pertama kali dikenalin, si Roki langsung nyamperin Bimbi, terus ditungguin aja semalaman ngumpet di bawah kursi. Paginya, mereka berdua udah duduk ngejejer di depan pintu. Nah, pasti udah akur dan sayang-sayangan. Kelihatannya, si Roki cinta banget ama si Bimbi, sebentar-sebentar kepala si Bimbi dijilatin sambil digigit-gigit dicari kutunya. Nggak nyampe satu bulan, Bimbi sering muntah. Jangan-jangan lagi hamil?? Eh, bener juga. Sebulan kemudian, kata dokter, Bimbi dalam kondisi hamil dan alhamdulillah badannya sehat. Lucunya, kucing kalo lagi hamil muda, wajahnya tambah cantik dan badannya tambah seksi. Jalannya berayun - ayun, bikin Roki klimpungan. Maunya setiap hari ML. Terbukti, setiap abis subuh pasti mereka berdua udah gendong-gendongan. Persis nyanyiannya mbah Surip. " Tak gendong kemana-mana.. enak tho..sedap tho.. mak nyuus tho..!!"
Makin hari kandungannya Bimbi makin besar. Nafsu makannya juga gede banget, tapi nafsu birahinya turun. Kadang si Roki digampar abis-abisan, kalo berani nyoba ngedeketin Bimbi. Genap 70 hari sejak atraksi gendong-gendongan, Bimbi mulai gelisah dan tingkahnya uring-uringan. Semua tempat dan ruang yang agak gelap disamperinnya.... dan di hari ke 72 Bimbi melahirkan 4 ekor bayi kucing yang lucu-lucu. Tapi sayangnya bayi yang keempat, kebalut ari-ari agak lama dan ketika ari-arinya disobek, bayi kucing udah terlalu lemes, akhirnya tak tertolong lagi.
Bimbi, memang sesosok ibu yang bertanggung jawab dan sangat mencintai anak-anaknya. Yang sulung warnanya hitam belang putih, seperti bapaknya. Anak kedua warnanya kuning, bulunya tebel banget. Nah yang ketiga, agak luar biasa.. bulunya putih tebal, ekornya mungil warnanya hitam. Jadi, itu ekor seperti pegangan sapu yang ditancepin. Wiiiihh... lucu sekali pokoknya !! Belum lagi, kalo dia gerak-gerak.. wah seperti bebek, megal-megol keberatan pantat..
Tiap hari, ketiga mahluk lucu itu berebut tetek emaknya. Mereka sering ribut, dorong-dorongan nggak ada yang mau ngalah. Repotnya lagi, tidak semua teteknya Bimbi keluar air susunya. Biasanya, jumlah tetek yang keluar air susunya maksimal dua atau tiga. Oleh sebab itu bayi kucing yang cepat gemuk pasti yang tenaganya paling besar, sehingga bisa ngalahin yang lain dalam berebut tetek. Dan kalo udah dapat tetek pasti akan disedot abis-abisan, sampai bunyi..sruut...sruutt.
Tapi suasana gembira itu tidak berlangsung lama. Baru 2 minggu bayi-bayi mungil itu lahir, si kuning sudah mulai tak aktif dan lemas. Badannya menyusut, tak begitu lagi doyan netek. Matanya selalu terpejam dan suaranya melemah. Genap usia 3 minggu lebih satu hari, si kuning tak tahan lagi dan meninggal dunia. Kabut duka mengiringi kepergiannya. Rasa penyesalan terasa menggores di hati, kenapa enggak buru-buru dibawa ke dokter. Malangnya lagi, kita yang masih berduka, sejak ditinggalkan si kuning, si hitam tahu-tahu badannya menggigil. Wah.. ada apa lagi ?? Buru-buru dibawa ke dokter. Kata dokter, dia kena sakit perut, mungkin karena ketularan si kuning . Untungnya tidak perlu di opname, bisa obat jalan. Setelah diperiksa dan diberi obat, si hitam dibawa pulang dengan kondisi yang masih lemas. Dua hari kemudian, tanpa sepengetahuan siapapun, si hitam ditemukan sudah dalam kondisi kaku dan meninggal dunia. Awan mendung kembali menyelimuti kepergiannya. Hati yang belum sembuh dari luka lama, kembali harus tergores perih. Hujan tangis tak terelakkan. Sedih dan pilu amat terasa ketika menyaksikan jasad yang mungil dan kaku dimasukkan ke liang lahat.... betapa berat diterpa rasa kehilangan!!
Sejak saat itu seluruh perhatian ditujukan kepada si putih. Kita nggak ingin kehilangan lagi untuk yang ketiga kalinya. Untungnya perkembangannya bagus. Badannya gemuk, bulunya seperti kapas dan sudah mulai bisa jalan dan bermain. Wiihhh... lucu sekali !! Semua sepakat, kita ganti nama si putih dengan si SNOWI. Biar bulunya tambah tebel seperti salju. Snowi sepertinya tahu juga kalo dirinya jadi pusat perhatian dan curahan kasih sayang. Siapapun yang mendekat pasti disapanya, sambil mengibas-ibaskan ekornya yang hitam seperti wiper. Jadinya, berkat si Snowi suasana rumah jadi meriah dan seluruh penghuni rumah merasa sangat bahagia. Setiap hari sebelum pergi mereka berpamitan sama Snowi, begitu pula pulangnya pasti duluan nengokin dan main sebentar sama Snowi. Snowi...Snowi, kehadiranmu bisa memberikan keceriaan dan kegembiraan yang tak bisa diukur dengan uang.
Tepat usia 2 bulan, tiba-tiba Snowi jadi pendiam. Tak banyak gerak, suaranya bergetar dan parau, kadang-kadang terdengar seperti rintihan. Matanya yang bulat mulai sering terpejam. Jalannya agak limbung dan nggak mau bermain lagi. Ya Tuhan... lindungilah mahluk kecil ini...jangan Engkau biarkan dia menderita. Ya Allah... jangan Engkau ambil dulu si Snowi, berilah dia kesempatan untuk hidup lebih lama lagi. Hari-hari yang tadinya cerah dan bersinar terang, dalam sekejap jadi kelabu membisu. Semua orang tak kuasa menahan rasa sedih dan prihatin. Keesokan harinya, pagi-pagi tubuh Snowi semakin lemah. Semuanya berkumpul mengelilingi Snowi yang sedang aku pijit-pijit kakinya. Kadang-kadang dia gerakkan kakinya dengan pelan disertai suara mengeong yang lirih dan tersendat......dan dengan susah payah dia mencoba membuka matanya... Ampun, ya Allah !!.. tak sanggup aku melihatnya. Pelan-pelan untaian air mata mengalir di pipi, tak tahan melihat penderitaan Snowi.
Buru-buru Snowi diselimuti, dimasukkan ke ranjang kecil terus dilarikan ke rumah sakit hewan. Semuanya tak sempat mandi, yang dipikirkan hanyalah bagaimana caranya menyelamatkan Snowi. Tak peduli apakah harus diopname atau dioperasi atau apapun penanganan yang diperlukan. Satu jam telah berlalu... dan ketika telpon rumah berdering ternyata membawa berita duka yang mendalam. Si Snowi, si kucing lucu, si kucing pembawa kegembiraan dan kebahagiaan orang serumah, telah berpulang kembali kepada Sang Pencipta, Allah swt. "Inna lilahi wa inna ilaihi rojiun". Dada ini terasa terbelah, terasa sesak dan susah bernapas. Derai air mata mengalir deras tak henti-hentinya. Hati yang sempat terbalut dan terobati dari goresan lama, kini kembali terbuka, menganga tergores luka baru. Beginikah rasanya ditinggalkan sosok yang kita cintai. Meskipun hanya kucing Snowi sudah kita anggap sebagai anggota keluarga sendiri. Kehadirannya, meskipun hanya selama dua bulan, benar-benar merupakan suatu anugerah bagi keluarga kami. Kita bisa belajar bertoleransi, menyayangi bahkan belajar lebih banyak memberi dari pada meminta. Belum lagi begitu besar kesenangan, kemeriahan dan kebahagiaan yang muncul dari kehadiran Snowi. Akhirnya aku hanya bisa berdoa, 'Ya Allah, aku bersyukur kepada Mu karena telah Engkau kirimkan mahluk yang lucu, yang dapat memberikan kemaslahatan bagi keluarga kami, yang telah memberikan pelajaran makna kehidupan dan mengingatkan kami kepada kuasa dan kebesaran Mu....Ya Allah, aku bermunajad kepada Mu...jadikanlah usia kami sebagai usia yang penuh kebaikan dan kemaslahatan... berilah kekuatan dan kemampuan untuk selalu bisa bersyukur dan memberi... berilah kesabaran dan kepasrahan atas segala ujian Mu serta jadikanlah kami sebagai mahluk yang tak pernah putus tersirami dengan nikmat Mu dalam keadaan suka ataupun duka. Amin, ya robbal alamin.